29.5.17

Note For Self Part 3.


Mengampuni.


Karena kita tidak berhak menilai, 
apakah ini benar-benar salah atau benar-benar benar? 
Mana yang lebih baik atau mana yang lebih buruk?

Karena kita tidak perlu mengutuki apa yang ada. Apa-apa yang telah ada, jalani, hidup memang demikian. Terus, capek hidup kalau isinya keluhan.

Karena memaafkan, atau dalam tingkatan selanjutnya, mengampuni, melepaskan kita dari aura-aura negatif yang terlanjur ada.


"Jangan menilai, dan Anda tidak akan dinilai. Jangan mengutuk, dan Anda tidak akan dihukum. Memaafkan, dan Anda akan diampuni."
- Lukas 6:37


Ketika memaafkan kesalahan dan menerimanya kembali berada dalam satu paket, di situlah akhirnya definisi pengampunan ditemukan. 


Ditulis secara sadar dan semoga baik oleh @lauradamerosa

Note For Self Part 2.


Berdamailah.


Dengan keadaan, 
dengan orang lain, 
dengan hal-hal brengsek yang lo temui, dan yang paling penting,
dengan diri sendiri.

Jangan lagi denial.
Jangan lagi enggak padahal iya.
Jangan lagi main salah-salahan.

Rusak lo lama-lama.
Sakit jiwa.

Udah,
jangan lagi pusatkan perhatian sama rasa sakit, 
tapi pusatkan perhatian sama hal-hal baik, 
sama hal-hal yang mau Tuhan kerjakan di hidup kita.


"Jikalau engkau ini menyediakan hatimu, dan menadahkan tanganmu kepada-Nya; jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu, maka sesungguhnya, engkau dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut, bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu, hanya teringat kepadanya seperti kepada air yang telah mengalir lalu."
- Ayub 11:13-16


Dari sini, tarik napas, 
berikan waktu luang buat hati dan pikiran. 
Sakit hatikah jalan terbaik buat lo?

Udah, maafkan. Lepaskan orang atau hal-hal yang sekiranya nggak berkenan buat lo dari tuntutan sakit hati. Mintalah campur tangan Tuhan biar kita tetap jadi orang yang penuh kasih.

Selanjutnya, hidup tetap berjalan, hadapi. 
Kasih dan luka itu sepaket, nggak perlu ditawar lagi.


Ditulis secara sadar dan semoga baik oleh @lauradamerosa

Note For Self Part 1.


Hidup ini bukan tentang lo.


Apa yang lo pikir seharusnya begini, nggak benar-benar seharusnya begitu. Pas lo pikir yang mestinya terjadi A, eh yang kejadian B. Kalau lo kayak gini ke orang, nggak otomatis orang itu bakal kayak gitu juga ke lo.

Buang jauh-jauh mulai sekarang pemikiran kayak gitu. Serius.

Rusak lo lama-lama.
Sakit jiwa.

Karena, 
nggak semua tentang lo. 
Nggak semua orang itu lo. 
Nggak semua jalan hidup macam apa yang lo pikir. 
Enggak.

Terus, mau marah? Sama siapa?
Mau nuntut? Lo bukan siapa-siapa.

Inget, mulai janji sama diri sendiri, kalau mulai sekarang belajar, lo harus mulai melepaskan orang yang udah melukai lo.

Nggak adil? Tapi, pengampunan memang nggak ngomongin soal adil. 


"Janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, 
tetapi berilah tempat kepada murka Allah, 
sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. 
Akulah yang akan menuntut pembalasan." 
- Roma 12:19


Jangan main hakim sendiri. 
Lo siapa emang? Udah paling bener?


Ditulis secara sadar dan semoga baik oleh @lauradamerosa

2.1.17

New Year, New Me Hanyalah Mitos


Kalau postingan terakhir saya di blog ini bicara soal bagaimana sepanjang tahun 2015 mengajarkan dan menguatkan hidup saya, mari kita mulai tahun ini dengan kembali merenung. Nampaknya kontemplasi adalah salah satu hobi dari berbagai kesukaan sementara saya dalam hidup.

Entah kenapa timeline Path dan Instagram memberi kabar bahwa agaknya 2016 menjadi tahun yang cukup berat bagi sebagian besar masyarakat sosial media yang saya ikuti. Saya? Ya kitu kitu weh lah. Banyak hal yang sebelumnya saya tulis mengenai 2015 jadi pelajaran lagi di 2016. Mungkin bukannya nggak belajar, cuma ya sebenarnya permasalahan hidup itu kan tergantung bagaimana kita memandang, barangkali saya memandangnya masih nggak jauh-jauh dari lingkup itu.

2016 masih dipenuhi dengan usaha yang tidak kunjung selesai, berdamai dengan diri sendiri. Bersyukur buat semua yang ada. Dikasih seneng, bersyukur. Dikasih pait, bersyukur. Hidup seneng mulu mah ke syuting princess-princess-an gih.

2016 masih banyak tanda tanya, tapi ya gapapa. Pengkhotbah 3:1 masih nempel plek-plekan di kepala dan hati saya. Jadi, santai. Meski kita dibawa ke mana-mana, rezeki mah nggak ke mana, dan Tuhan ada di mana-mana. Cigitu.

2016 untuk singkatnya, so far so good lah. Memang kalimat itu yang rasanya paling bijak untuk menyimpulkan tahun ini. Tanpa ekspektasi ketinggian, tanpa nada keluhan.

Untuk tahun depan, nggak banyak yang mau dilakukan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, "new year, new me" kebanyakan cuma mentok di wacana. Mau lebih blablabla, mau mengurangi blablabla. Yang pasti pasti dulu.

Semoga apa yang baik pernah ada dan sekarang ada, bisa tetap ada di kemudian hari.

Tuhan taulah waktu terbaik. Hidup kan soal waktu dan peluang yang ada. Kalau dikasihnya ketawa sampai lupa waktu, jalanin. Kalau dikasihnya nangis kok ya hidup gini amat, jalanin. Tapi jalannya jangan sekadar jalan, jadilah berkembang.

Ya semoga ya.



-@lauradamerosa



10.12.15

2015 Has Taught Me


  1. Inget, hidup ini kebanyakan bukan tentang apa yang lo mau. Karena nggak semuanya harus tentang lo, kan?
  2. Oleh karena itu, jikalau hidup nggak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, kunyah aja kunyah, abis itu telen. Kelar. 
  3. Jangan pernah percaya sama hal-hal yang katanya bakal sama selamanya. Remember, even the sweetest chocolate expires. Karena all the time itu cuma mentok di 'katanya'.
  4. Jangan pula punya ekspektasi apapun kepada segala hal yang ujung-ujungnya berkaitan dengan manusia lain. Karena pada hakikatnya, manusia memang hidup untuk mengecewakan dan dikecewakan. Tapi ya lo juga gitu lah, nggak usah protes.
  5. Kebaikan pun belum tentu dibalas dengan kebaikan. Kalau mau baik, ya baik aja, nggak usah berharap dibaikin balik atau sekadar diapresiasi untuk itu. Life doesn't work that way, Sayang.
  6. Kalau ada orang yang mau pergi dalam hidup lo, persilakan. Pasang senyum terbaik, kemudian dadah-dadahlah dengan ikhlas. Nggak usah mohon-mohon untuk sesuatu yang memang nggak pernah mau ada di jalan lo.
  7. Biar lebih jelas apa itu ikhlas, biarkanlah saya membagikan sebuah kalimat yang terkutip entah dari mana bahwa, "Iklas itu begini: Kau rawat kepompong hingga menjadi kupu-kupu, meski tau bahwa semua yang bersayap akan selalu terbang".
  8. Tapi kalau ada seseorang atau sesuatu yang bikin hidup senang, kejar. Kejar sampai sekiranya kaki udah nggak bisa lagi dipakai buat lari. Tapi harus tahu, kapan waktu yang tepat untuk berhenti, untuk istirahat sejenak, atau untuk memulai kembali.
  9. Pernah ada seseorang yang dulu selalu mengingatkan, "Nggak boleh ngeluh ya". Dan meskipun orangnya udah nggak tau ke mana, tapi hal itu menyadarkan saya bahwa sebenarnya bahagia itu gampang. Cukup ingat himbauan tersebut dan sering-seringlah bersyukur.
  10. Kalau dirasa bersyukur itu sulit, mari kita mulai dari "berdamai dengan diri sendiri". Bahwa setiap kita punya kapasitasnya masing-masing. Serius, karena tidak puas dengan diri sendiri itu bebannya bukan main.
  11. Buka mata dan sadarilah bahwa dunia memang kayak tai, hidup ini juga. Tapi akan selalu ada cara buat diketawain.
  12. Di atas segala hal tersebut, lo cuma boleh percaya ini, Tuhan nggak pernah nggak ada. Gapapa lo terus berpikiran negatif dan nggak percaya kalau yang di depan bakal baik-baik aja. Meski lo udah sering tau, apa yang jadi ketakutan lo sekarang, seringnya nggak akan kejadian. Lo akan end up dengan hal-hal manis, dan disitulah akhirnya hal-hal yang tadinya tai berubah jadi rasa syukur yang luar biasa. Kayaknya lo emang dibentuk jadi pribadi yang alergi sama hal yang manis-manis di awal.
  13. Dan untuk menutup semua ini dengan baik, silakan baca dan peganglah ini untuk kehidupan selanjutnya: "There is a time for everything and a season for every activity under the heavens" (Ecclesiastes 3:1).
Udah, nggak usah menyesali apa-apa yang udah lewat atau nggak sempet lewat. Masih ada besok atau besoknya lagi atau emang nggak usah pernah dirasain, cobain yang baru aja.

Selamat menghadapi 2016.


 -@lauradamerosa