10.12.15

2015 Has Taught Me

  1. Inget, hidup ini kebanyakan bukan tentang apa yang lo mau. Karena nggak semuanya harus tentang lo, kan?
  2. Oleh karena itu, jikalau hidup nggak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, kunyah aja kunyah, abis itu telen. Kelar. 
  3. Jangan pernah percaya sama hal-hal yang katanya bakal sama selamanya. Remember, even the sweetest chocolate expires. Karena all the time itu cuma mentok di 'katanya'.
  4. Jangan pula punya ekspektasi apapun kepada segala hal yang ujung-ujungnya berkaitan dengan manusia lain. Karena pada hakikatnya, manusia memang hidup untuk mengecewakan dan dikecewakan. Tapi ya lo juga gitu lah, nggak usah protes.
  5. Kebaikan pun belum tentu dibalas dengan kebaikan. Kalau mau baik, ya baik aja, nggak usah berharap dibaikin balik atau sekadar diapresiasi untuk itu. Life doesn't work that way, Sayang.
  6. Kalau ada orang yang mau pergi dalam hidup lo, persilakan. Pasang senyum terbaik, kemudian dadah-dadahlah dengan ikhlas. Nggak usah mohon-mohon untuk sesuatu yang memang nggak pernah mau ada di jalan lo.
  7. Biar lebih jelas apa itu ikhlas, biarkanlah saya membagikan sebuah kalimat yang terkutip entah dari mana bahwa, "Iklas itu begini: Kau rawat kepompong hingga menjadi kupu-kupu, meski tau bahwa semua yang bersayap akan selalu terbang".
  8. Tapi kalau ada seseorang atau sesuatu yang bikin hidup senang, kejar. Kejar sampai sekiranya kaki udah nggak bisa lagi dipakai buat lari. Tapi harus tahu, kapan waktu yang tepat untuk berhenti, untuk istirahat sejenak, atau untuk memulai kembali.
  9. Pernah ada seseorang yang dulu selalu mengingatkan, "Nggak boleh ngeluh ya". Dan meskipun orangnya udah nggak tau ke mana, tapi hal itu menyadarkan saya bahwa sebenarnya bahagia itu gampang. Cukup ingat himbauan tersebut dan sering-seringlah bersyukur.
  10. Kalau dirasa bersyukur itu sulit, mari kita mulai dari "berdamai dengan diri sendiri". Bahwa setiap kita punya kapasitasnya masing-masing. Serius, karena tidak puas dengan diri sendiri itu bebannya bukan main.
  11. Buka mata dan sadarilah bahwa dunia memang kayak tai, hidup ini juga. Tapi akan selalu ada cara buat diketawain.
  12. Di atas segala hal tersebut, lo cuma boleh percaya ini, Tuhan nggak pernah nggak ada. Gapapa lo terus berpikiran negatif dan nggak percaya kalau yang di depan bakal baik-baik aja. Meski lo udah sering tau, apa yang jadi ketakutan lo sekarang, seringnya nggak akan kejadian. Lo akan end up dengan hal-hal manis, dan disitulah akhirnya hal-hal yang tadinya tai berubah jadi rasa syukur yang luar biasa. Kayaknya lo emang dibentuk jadi pribadi yang alergi sama hal yang manis-manis di awal.
  13. Dan untuk menutup semua ini dengan baik, silakan baca dan peganglah ini untuk kehidupan selanjutnya: "There is a time for everything and a season for every activity under the heavens" (Ecclesiastes 3:1).
Udah, nggak usah menyesali apa-apa yang udah lewat atau nggak sempet lewat. Masih ada besok atau besoknya lagi atau emang nggak usah pernah dirasain, cobain yang baru aja.

Selamat menghadapi 2016.


 -@lauradamerosa

14.10.15

"Don't Stop When You're Tired, Stop When You're Done"

Beberapa bulan lalu, quote sejenis sempat jadi wallpaper hp dan laptop saya. Biar apa? Ya, biar mengingatkan bahwa saya belum selayaknya berhenti. Bahwa, betapa culunnya saya untuk kalah sama keadaan yang seharusnya masih bisa saya hadapi. Dan tentang saya yang harus bisa menyelesaikan apa-apa yang sudah saya mulai.

Kemudian, waktu berulang. Saya kembali berada dalam fase anjir-nggak-tahan-gue.

Ngapain sih nunggu kelar kalau emang ini kayaknya nggak akan kelar-kelar?
Kalau udah capek, yaudahlah, udahin aja. Ngapain sih masih dijalanin aja?
Lo mencoba bertahan apa cuma ditahan-tahanin?

Ah, banyaklah.

Pada akhirnya, saya harus lebih banyak belajar berdamai dengan segala hal, terutama diri sendiri. Kalau hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang saya harapkan, ya artinya memang jalannya memang tidak bisa seperti itu. Poin terpentingnya, saya tidak diam, sudah ada usaha yang saya lakukan untuk hasil terbaik, tetapi kalau hasilnya memang tidak bisa baik, ya sudah. Setiap kita punya kapasitasnya masing-masing. Dengan porsi yang sekarang, hasil yang bisa saya berikan ya memang hanya sedemikian.

Karena tidak puas dengan diri sendiri itu beban.
Serius.

Akibatnya, akan semakin sedikit ruang buat bersyukur nantinya. Dan itu bahaya. Ketika rasa syukur mulai susah untuk dipanjatkan, di situlah hidup saya perlahan akan menuju ke keluhan melulu. Bukan berarti saya tidak bisa bahagia, tetapi saya lupa menempatkan kebahagiaan dalam porsinya.

Sekarang, "stop" itu sebenarnya perkara kesiapan. Bukan harus menunggu sesuatu selesai baru akhirnya saya berhenti. Bukan juga dengan secupu itu saya selesai ketika saya capek, saya sudah nggak tahan lagi. Tapi apakah sebenarnya saya sudah siap untuk berhenti? Itu dia.

Saya yang tahu kapan waktu yang tepat untuk berhenti, untuk memulai kembali, atau untuk istirahat dan lari sejenak. Dan dari semua pilihan yang saya ambil, seharusnya nggak ada yang salah, nggak ada yang benar. Hidup hidup saya, toh?

Itulah kemudian gunanya, pada ujungnya, saya memang harus bisa berdamai dengan diri sendiri.


-@lauradamerosa

22.10.14

Selamat Menjadi Berkat!

Saya selalu punya waktu untuk mengakrabi masa lalu. Mengagumi tiap-tiap kenangan yang mengingatkan saya tentang bagaimana sisa hidup ini berjalan. Menyadari bahwa begitu banyak hal yang berubah dari diri ini, meski tidak semuanya benar-benar berubah. 

Dan, selamat ulang tahun, saya. Saya selalu takjub mengingat apa yang pernah terjadi tiap-tiap tahun dalam hidup saya. 

Tuhan kok nggak capek-capek ngasih berkat ya?

Tahun ini tahun di mana beberapa kesedihan boleh saya terima. Kematian kakek yang pergi di depan mata saya, perjuangan dalam menempuh skripsi yang terus ada halangannya, sampai cobaan demi cobaan yang ada dalam hubungan saya. Bukan, saya bukan orang yang menamakan percekcokan kecil akibat salah paham, cemburu-cemburuan, atau ketidakadaan kabar sebagai masalah dalam berhubungan. Artinya, kalau ini bisa saya bilang masalah, kamu bisa mengartikannya sendiri.

Tapi fokus tulisan saya bukan kepada masalahnya, melainkan pada apa yang boleh Tuhan kasih buat saya untuk tiap-tiap masalah tersebut. Tuhan kasih saya begitu banyak berkat.

Sebelum kakek saya meninggal, saya dikasih waktu paling indah buat bisa bersenang-senang bareng, buat menjaga ia di hari sebelum kepergiannya, buat jadi saksi terakhir bagaimana ia berjuang dan akhirnya memasrahkan hidupnya. Saya yang dikasih. Bukan sepupu-sepupu saya yang lain. Tuhan kasih saya waktu.

Saat saya mendapati kesulitan dalam pengerjaan skripsi yang datang dari birokrasi kampus atau birokrasi tempat penelitian, saya juga dikasih dua dosen pembimbing yang percaya benar sama kemampuan saya. Semuanya dilancarkan. Saya hampir berjalan tanpa revisi dari mereka, malahan saya yang selalu merasa kurang dan merevisi sendiri. Tuhan kasih orang-orang yang mau saya ganggu untuk berdiskusi. Tuhan kasih kerendahdirian saya untuk selalu minder bertemu dosen pembimbing kalau saya belum baca apa-apa. Lihat, bahkan Tuhan mengubah kekurangan saya jadi kebaikan.

Terakhir, yang masih saya alami sampai saat ini, hubungan saya dengan pacar. Meski buat saya ini masih jadi hal rumit yang seharusnya tidak ada dalam hidup saya dengan jalur hidup yang seperti ini, tapi saya selalu percaya, Tuhan kalau sudah kasih sesuatu pasti ada maksudnya. Dan maksudnya selalu baik. Kalau pun dampak baiknya tidak langsung tertuju kepada saya, setidak-tidaknya saya belajar untuk berguna bagi orang lain. Setiap saya merasa hal ini berat dan berpikir, "kok hidup gini gini amat ya?", Tuhan selalu kasih jalan, kasih saya teman yang hampir selalu ada, kasih bantuan dari siapapun, kasih saya kuping-kuping yang selalu mau mendengar curhatan saya.

Tuh, hidup saya nggak pernah jauh dari berkat. Sekarang giliran saya harus jadi berkat buat orang lain. 

Saya bisa jadi cucu yang menemani nenek saya tiap ia kesepian karena sudah tidak ada kakek. Saya bisa jadi rekan belajar dan kawan diskusi bagi teman-teman yang masih berjuang untuk menyelesaikan pendidikannya. Saya bisa jadi teman yang tetap ada meski teman lainnya pergi untuk pacar yang butuh semangat di masa-masa kejatuhannya.

Seperti apa yang salah seorang teman berikan saat ulang tahun saya kemarin. Dia kasih saya ini, tulisan saya beberapa tahun silam.

Iya, saya mesti bawa perubahan. 


-@lauradamerosa

2.4.14

Sampai Jumpa di Surga, Opung..

Begitu status saya kemarin pagi.

Kesedihan memang bukan untuk dipamerkan. Tapi inilah saya yang ingin berbagi, bahwa betapa Tuhan selalu punya rencana baik untuk orang-orang baik.

Saya memanggil kakek saya Opung Doli. Terlepas dari penulisannya benar atau salah, selanjutnya pada tulisan ini saya akan menyebut beliau demikian.

Sabtu (29/3) kemarin, kami sekeluarga besar baru saja mengadakan kumpul keluarga di rumah Opung. Kami senang-senang, ucapan puji dan syukur kepada Tuhan kami panjatkan dengan begitu sukacita, bahkan sampai tukar kado dan main games bareng. Meski Opung sudah tidak bisa bergerak dengan lincah, tapi beliau ikut, beliau tertawa bersama kami.

Minggu (30/3) malam, Opung masuk rumah sakit, serangan jantung. Saya ikut jaga inap pada Senin (31/1) malam. Hari itu saya ingin sekali ikut jaga, saya sudah persiapkan semuanya untuk jaga, bahkan berlebihan sampai bawa novel, komik, dan snack. Kebetulan? Saya kira ini rencana Tuhan, dan saya sangat berterima kasih untuk itu.

Tapi malamnya, Opung terkena serangan lagi. Tuhan membawa Opung sembuh dengan begitu cepat, tanpa Opung perlu merasakan sakit lebih dalam, dimasukan benda-benda aneh ke dalam tubuhnya, atau mengalami kelumpuhan permanen akibat penyakit masa tuanya. Paginya, hari Senin (1/4), Opung pergi.

Saya harap ini April Mop, tapi bukan.

Selama hampir setengah jam saya ikut menjadi saksi bagaimana para dokter sungguh-sungguh berusaha menyelamatkan Opung. Saya, nenek, tante, dan om saya terus melihat dan berdoa dalam hati masing-masing. Dokter bilang, "Kami akan berusaha sampai jam 07.10." Kemudian saat-saat terakhir diberikan kepada kami untuk berada di sisi Opung, sekaligus berdoa dan bernyanyi buat Opung.

Opung saya kuat. 85 tahun hidup itu sudah dengan bonus. Tapi, begitulah Tuhan mengatur rencana baik untuk orang baik seperti Opung saya. Dalam umur yang diberikan Tuhan, begitu banyak kebahagiaan yang telah diterima beliau.

Jadi, sekarang pasti Opung sudah bahagia. Kalau kemarin saya berdoa di depan Opung biar kita bisa sama-sama tertawa lagi, saya yakin kami masih bisa melakukannya. Iya, Opung sudah senang di sana, begitu pun saya harus bisa senang senantiasa di sini.

Sampai jumpa di surga, Opung Doli..


-@lauradamerosa

31.12.13

Ada Apa di 2014?

Ini memang belum 2014, tapi begitu banyak orang yang telah berkicau pagi ini mengenai tahun 2014 yang sebentar lagi datang. Apa yang pertama kali ada di pikiran Anda ketika mendengar kata 2014? Kalau saya, pemilu.

2014 adalah waktunya pemilu. Berhubung ini adalah pemilu pertama saya, saya cukup menantikan ajang demokrasi politik di Negara ini. Jadi, akan pilih siapa saya? Meski belum tahu siapa yang akan saya pilih, tapi sudah ada nama yang setidaknya baik jika diberi kepercayaan.

Menariknya, pemilu di Negara ini layaknya pemilihan ajang pencarian bakat, dan tolong digarisbawahi unsur menghibur di dalamnya. Konvensi Partai Demokrat? Wah, itu seru sekali. Ada kampanye-kampanye yang idenya oke, seperti turuntangan atau mungkin beberapa ide dari kampanye lainnya. Di luar itu, beberapa para pemilik media massa juga berlomba-lomba mengiklankan dirinya sendiri sebagai salah satu orang yang akan ikut ajang pemilu di 2014 nanti.

Di tempat saya mengetik tulisan untuk blog ini, saya hanya bisa berharap bahwa calon-calon yang akan ada nanti adalah calon-calon yang baik. Penyebab tingginya angka golput bisa jadi karena rakyat sudah bosan dengan calon yang itu-itu saja dari tahun ke tahun, yang cara kampanyenya hanya sekedar pasang poster dan baliho untuk mengotori jalan, atau yang sudah diketahui punya borok-borok di masa lampau. Rakyat butuh seseorang yang baru, yang bisa mereka idolakan bukan karena keahliannya sebagai musisi atau hal lain, namun karena keahliannya yang dipercaya dapat menjadi bekal untuk memimpin Negara ini. Toh, di beberapa kota saja sudah banyak Walikota atau Gubernur yang oke, masa untuk Presiden saja masih banyak dinyinyiri rakyatnya, terutama rakyat twitter?

Yang baik-baik harus bersatu, biar rakyat justru kebingungan milih yang terbaik.


-@lauradamerosa